Marginalisasi Nilai-Nilai Pancasila

Oleh

Sad Dita Dwi Sancaya

Berangkat dari permasalahan ideologi kita yaitu pancasila yang semestinya dijadikan sebagai pegangan hidup falsafah bernegara, tapi itu semua hanya tinggal bualan saja yang berbeda keadaanya pada 30 tahun yang lalu. Perlu disadari adanya globalisasi membuat sendi-sendi pancasila menjadi lemah dan sedikit demi sedikit nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila mulai termarginalisasi. Sebenarnya nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila merupakan landasan pokok dan bersifat fundamental dalam penyelenggaraan Negara. Misalnya saja yang pertama tentang nilai ketuhanan  Mengandung arti adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta. Dengan nilai ini menyatakan bangsa indonesia merupakan bangsa yang religius bukan bangsa yang ateis.

Kedua Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Ketiga nilai persatuan Indonesia mengndung makna usaha kearah bersatu yang nasionalisme dan juga mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang ada di Indonesia. Keempat nilai kerakyatan dan kebijaksanaan maksudnya bahwa kedaulatan tertinggi berada ditangan rakyat dan dalam penyelesaian masalah ditentukan dengan musyawarah untuk mufakat.

Kelima adalah nilai keadilan maksudnya bahwa keadilan disini termasuk juga dalam tujuan dari bangsa Indonesia sendiri yaitu terwujudnya bangsa yang adil dan makmur. Dari nilai-nilai pancasila diatas sebenarnya bersifat sangat abstrak dan normative oleh karena itulah perlu dijabarkan dalam peraturan yang lain seperti undang-undang.

Berangkat dari kecenderungan banyak orang saat ini yang menganggap bahwa pancasila hanya sebagai simbol falsafah saja dan tidak dipungkiri keberadaan pancasila ini semakin hari semakin kian terpuruk saja. Semestinya pancasila sebagai sumber segala sumber pembuatan hukum justru menciptakan lawan ideologi baru.

Banyaknya kasus korupsi, suap, money laundry yang dilakukan oleh “kerah putih” mengakibatkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sudah tidak lagi menjadi dasar morallitas sehingga muncul banyak sekali demoralisasi. Dari keadaan inilah kemungkinan besar proses marginalisasi itu muncul yaitu dengan melahirkan “ideologi baru” dalam arti lahir ideologi samar-samar seperti leberalisme, komunisme yang secara perlahan-lahan membunuh ideologi pancasila.

Pengkhianatan nilai-nilai pancasila adalah suatu titik awal pembunuhan terhadap jati diri bangsa sendiri, karena sesungguhnya nilai-nilai pancasila ini selain merupakan perwujudan bangsa Indonesia juga sebagai tujuan bangsa Indonesia terutama kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia. Di lain pihak wakil rakyat dan pemimipin bangsa yang justru tidak dapat dijadikan tauladan, pemimpin yang tidak bertanggung jawab dan hanya bisa berkoar dimulut saja dan komitmen yang tidak pernah dilakukan dengan perbuatan.

Problema tersebut membuat rakyat menjadi jenuh dan dari kejenuhan tersebut orang-orang mulai untuk berfikir menciptakan ideologi baru yang menurut paham mereka adalah yang paling benar, ini awal mula timbulnya kekacaun yang melanda negeri ini. Melihat perjalanan sejarah yang begitu panjang seharusnya dapat menjadi titik awal perubahan dan kemajuan tetapi yang terlihat disi semangat nasionalisme justru menjadi menurun dan jauh dari nilai-nilai semangat pancasila yang diharapkan. Akibatnya orang menjadi tidak percaya pada nilai-nilai pancasila yang selama ini dijunjung tinggi oleh Negara ini.

Kemerosotan mental, moral dan etika juga menjadi salah satu faktor merginalisasi pancasila karena etika dan moral adalah bagian yang vital dalam penyelenggaraan pemerintahan yang adil dan makmur. Keadaan yang juga membuat eksistensi nilai pancasila merosot adalah budaya hidup yang materialistic dan praktis yang mengakibatkan  timbulnya keserakahan dari para pihak yang telah diberikan wewenang, dan juga termasuk didalmnya para elit politik dan birokrasi yang cenderung memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yaitu  budaya mempertahankan kekuasaan dan mengambil keuntungan bahkan lebih ekstrim lagi menyalahgunakan kekuasaan yang mereka jabat, tanpa memberikan kesempatan sedikitpun kepada rakyat yang semestinya merupakan legitimasi dari semua kebijakan pemerintah.

Dengan kondisi yang termarginalisasi saat ini, diperlukan sebuah wadah untuk menyelesaikan pemasalahan yang timbul antara lain dari segi wakil rakyat dan pemimpin yang seharusnya menjadi tauladan bagi rakyatnya dan diawali dengan memberikan contoh dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila.

Dari kondisi yang sangat terpuruk diatas sekiranya untuk melakukan pembaruan yang diantaranya yaitu memberlakukan ideologi pancasila yang didalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pancasila dan itu diimplementasikan dengan perbuatan. Untuk para pemegang kekuasaan dan elit politik dalam menjalankan kekuasaan hendaknya berpedoman pada nilai-nilai pancasila. sebagai contoh ketuhanan, yang apa bila mereka melakukan pelanggaran akan merasa sadar bahwa dia adalah makhluk tuhan yang tidak lepas dari dosa. Dan juga menindak lanjuti ketika ada pelanggaran maka hukum dipertegas demi memnuhi keadilan yang tercantum sesuai dengan nilai-nilai pancasila, dan mewujudkan tujuan bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: